Monday, 15 February 2016

Witness of Love



I am a witness of love
          Di hari kasih sayang, aku adalah ungkapan sayang seorang pria terhadap wanita. Pria itu membawaku pulang dari sebuah toko perhiasan ternama setelah menabung cukup lama. Aku ingat sekali, ketika wanita yang dicintai pria itu membuka kotak beludru dan melihatku, ia memekik senang, lalu memeluk pria itu dengan erat. Aku bisa melihat cinta dalam tatapan mata keduanya. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Aku bersyukur dapat menjadi bagian dari kisah mereka, bahwa pria akan melakukan semampunya demi sebuah senyuman bahagia di wajah wanita yang dicintainya.
Di hari yang sakral itu, aku adalah saksi sekaligus bukti cinta mereka. Aku menyaksikan bagaimana mereka mengucapkan janji di suci di hadapan Bapa dengan wajah yang diliputi kebahagiaan tulus. Aku menyaksikan bagaimana mereka bersukacita menyambut dan mempersiapkan sebuah babak kehidupan yang baru. Aku menyaksikan bagaimana mereka bahu-membahu membangun sebuah perahu kehidupan yang dipenuhi dan didasari cinta.
Pada tahun-tahun awal, aku melihat bagaimana manisnya mereka. Meski terkadang ada pertengakaran-pertengkaran kecil, tapi mereka bisa mengatasinya. Malah dari pertengkaran-pertengkaran tersebut pemahaman mereka akan satu sama lain semakin dalam. Aku bisa merasakan kegigihan keduanya untuk memperjuangkan kehidupan baru mereka.
Kala malam, aku berbisik dengan pasanganku ketika keduanya terlelap dengan tangan saling bertaut. Kami bercakap-cakap dengan suara perlahan, bersyukur menemukan tuan yang saling mengasihi satu sama lain. Kami juga berdoa bagi mereka agar cinta mereka selamanya tak berubah.
Waktu terus bergulir. Selama kehidupan ada, selamanya akan ada ketidaksempurnaan. Begitu juga dengan mereka.
Aku mulai menyaksikan pertengkaran-pertengkaran yang lebih besar dari tahun-tahun awal mereka. Masalah-masalah sosial yang menghimpit mulai memengaruhi kehidupan mereka. Aku turut merasakan sakit hati si wanita ketika si pria menyudahi pertengkaran mereka dengan bantingan pintu. Aku menyaksikannya menangis dalam pilu. Aku bisa merasakan kesedihannya.
Pertengkaran kali ini tidak seperti pertengkaran pada tahun-tahun awal mereka. Aku tidak tahu apa sebabnya seperti ini. Mereka tidak berbaikan dengan mudah seperti masa itu. Aku rasa, ego mulai mengalahkan cinta. Pasanganku terus menyemangatiku supaya tidak berputus asa dan memintaku terus berdoa bagi mereka. Aku menurut.
Masa demi masa berlalu. Aku mulai merindukan masa-masa indah dahulu. Aku tidak mengerti, mengapa mereka bisa seperti ini. Saling memahami dan menoleransi seolah menguap perlahan. Aku menyaksikan bagaimana sebuah perkara kecil dapat memicu pertengkaran yang hebat.
Kala malam, aku menangis dalam diam. Aku merasa sedih sekali, mereka saling membelakangi. Aku tidak lagi bercakap-cakap dengan pasanganku sesering dahulu. Ketika aku masih melanjutkan tangis, pasanganku berujar padaku, berdoalah terus bagi mereka. Ya, berdoa. Hanya itu yang dapat kami lakukan.

I was a witness of love
          Tidak terasa, sudah cukup lama aku menemani mereka mengarungi kehidupan. Aku bisa merasakan kasih yang memudar perlahan. Segalanya tampak begitu berbeda pada masa-masa awal. Aku sering bertanya-tanya, sebegitu rapuhkah kasih di antara dua manusia?
          Hari-hari berlalu tenang dan tampak biasa. Sampai-sampai aku tidak menyadari sebuah hantaman yang menyerang. Hal yang paling aku takutkan terjadi.
          Di suatu pagi, wanita berujar lirih pada pria bahwa ia tidak bisa meneruskan lagi. Ia ingin mengakhiri semuanya. Ia merasa sangat lelah dan tidak bahagia. Ia merasa si pria tidak lagi mencintainya.
          Aku tidak memercayai pandangan dan pendengaranku. Mereka… akan berpisah?
          Si pria mendesah singkat, lalu berbalik pergi. Dia tidak menolak.
          Hatiku hancur tatkala mereka memutuskan untuk menandatangani surat itu, surat yang mengakhiri panggilan dan arti hidupku. Aku berteriak memohon mereka agar jangan melepaskanku dan pasanganku. Tapi, tentu saja mereka tidak dapat mendengarnya. Hal yang tentu saja membuatku teramat frustrasi.
          Ketika aku sudah lepas dari jari mereka, aku pasrah. Aku sadar, sudah berakhir. Aku tak lagi berarti apa-apa.
          Aku masih bisa mendengar wanita berujar lirih, “Sudahlah, mungkin Tuhan tidak lagi menginginkan kami bersama.”
          Tanpa dapat kucegah, aku merasa tertusuk. Aku merasa tidak berarti. Tapi detik berikutnya, aku merasa kasihan pada mereka.
          Jika Tuhan telah menyatukan mereka, mungkinkah Ia memisahkan mereka? Mungkinkah Ia meleburkan kebahagiaan anak-anak-Nya?
          Aku merasa semakin getir tatkala teringat janji suci yang telah mereka ucapkan di hadapan Bapa.
          Detik berikutnya, aku menyaksikan mereka berpisah, dengan tatapan kabur oleh airmata. Detik berikutnya, aku menyadari itu adalah airmataku sendiri.

No comments:

Post a Comment