Rabu siang.
Sraaak. Srek.
Satu lagi surat yang menghuni laci mejaku.
Entah ini surat yang ke berapa. Aku tidak lagi ingat.
Terlalu banyak surat-surat yang kutulis untuknya yang teronggok di dalam.
Pikiranku larut dalam berbagai hal. Aku memejamkan
mata, berusaha menikmati.
“Nih! Ambil bunganya.”
Suara gemericik air membuyarkan lamunanku.
Mataku terbuka dan menerawang menuju kejauhan dan
pikiranku pun larut dalam kenangan.
Sabtu sore.
Semilir angin menerpa wajahku dengan lembut. Sesekali
helaian rambutku menutupi pandanganku. Aku menghirup napas dalam-dalam lalu
berteriak sekuat-kuatnya. Semua beban di pikiranku serasa terangkat dan
menguap, hilang dibawa angin.
Cakrawala yang terhampar di hadapanku begitu memesona,
masih sama seperti dulu. Indahnya membuatku kehilangan kata-kata dan hanyut
kembali dalam kenangan.
Kamis sore.
Burclay Park masih sama seperti dulu. Masih asri dan
meneduhkan hati. Aku menempati sebuah bangku taman yang kosong sambil melahap hotdog. Sesekali aku menatap dedaunan
yang berguguran dihembus angin kencang. Aku kembali menikmati hotdog-ku sambil menatap sepasang
kekasih yang berdiri di kejauhan.
Aku menghabiskan hotdog-ku
kemudian membuang kertas pembungkusnya di tong sampah terdekat. Aku duduk
kembali di bangku yang sama, menikmati semilir angin.
Wuussh…
“Ah!”
“Nih, saputangannya! Makanya pegang yang bener. Udah tau angin sini
kencang.”
“Hehehe. Thank you, Car!”
“Udah kubilang jangan panggil “Car”! Aku bukan mobil!”
“Auw! Sakit, Carlos!”
“Gitu dong.”
“Rese!”
Helai-helai daun yang berguguran beterbangan ditiup
angin. Salah satunya menerpa pipiku dan mendarat di pangkuanku. Aku memungut
daun yang berbentuk menjari tersebut dan mengamatinya lekat-lekat. Selekat
kenangan yang masih mengisi pikiran dan hatiku.
Minggu sore.
Seikat lavender berada dalam genggamanku. Aku
menyusuri perlahan jalan setapak yang sudah sangat kukenal menuju tempat yang
sudah lama sekali tidak kudatangi. Sesekali aku menepis ilalang yang mulai
tumbuh tinggi.
Langkahku terhenti ketika batang pohon yang besar berada
tak jauh dari pandanganku. Aku menarik napas, menghembuskannya pelan lalu
menyunggingkan senyum. Perasaan hangat, rindu dan damai menyambutku bersamaan.
“Dri! Cepat, ke sini!”
“Nggak mau ah! Takut! Terlalu tinggi!”
“Sini, kubantu. Sini tangannya!”
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu
memutuskan untuk meneruskan langkah.
Langkahku terhenti di depan sebuah pohon besar yang
berdiri jumawa. Pohon ini masih sama seperti saat terakhir kali kutinggalkan.
Batangnya yang kasar masih menyisakan guratan-guratan yang kubuat bersamanya.
Masih terasa begitu jelas dan familier.
“Wah! Pohon ini gede banget! Kok bisa tau ada pohon ini di sini?”
“Iya dong, Carlos gitu lho! Haha! Kita jadiin pohon ini markas main aja
ya?”
“Asik! Eh, kita tulisin nama kita di pohon ini yuk!”
“Sip!”
Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon tersebut,
masih dengan seikat lavender di tangan. Mataku terpejam, berusaha mendamaikan
hati dan pikiran dengan kenangan.
Suara gemerisik dedaunan menyadarkanku dari lamunanku.
Aku membuka mata. Sudah saatnya.
Aku berjongkok, menggali tanah di sekitar akar pohon.
Tanganku terus menggali hingga aku menemukan apa yang kucari. Sebuah kotak
warna cokelat pucat dengan inisial CG di atasnya.
Aku meraih kotak tersebut dan membersihkannya dari
debu tanah. Perasaan sayangku pada kotak ini beserta isinya menyeruak memenuhi
relung hatiku. Sejenak aku ragu, tapi menit berikutnya aku aku kembali
membulatkan tekad. Sudah saatnya, Riel.
Sudah cukup.
Aku berdiri dan meraup kertas-kertas yang mengisi
kotak tersebut, menggenggamnya erat-erat dalam tanganku dan menempatkannya di
depan dadaku. Mataku memejam, berusaha menyimpan setiap kenanganku bersamanya
sebaik-baiknya.
“Je t’aime…”
Bersamaan dengan itu, aku melemparkan kertas-kertas
dalam genggaman ke udara, menciptakan tebaran lembaran putih di langit biru.
Aku menatap lembaran-lembaran kertas yang bertebaran
dan beterbangan ditiup angin. Aku merasa lega dan bebas, sebebas
lembaran-lembaran kertas yang beterbangan dibawa angin.
“Carlos! Maafkan aku!” teriakku kencang ke arah
langit.
Aku mengambil selembar foto dari balik saku. Foto
Carlos yang sedang tertawa lebar di atas dahan pohon. Aku menguburkan foto
Carlos bersama seikat lavender di dalam kotak cokelat pucat, lalu meletakkannya
dalam lubang yang telah kugali sebelumnya. Pelan tapi pasti, aku menutupi
kembali kotak tersebut dengan tanah dan rerumputan.
Aku berdiri dan menyeka keringat di dahi dengan
lengan. Aku menatap pohon yang berdiri kokoh di hadapanku. Tanpa bisa kucegah,
aku kembali merasa getir. Perasaan bersalah dan sedih kembali menyerangku tanpa
bisa kucegah. Butiran airmata bergulir menuruni pipiku.
***
“Riel!”
Dari kejauhan tampak oleh Gadriel sosok Carlos yang sedang nangkring di
atas pohon. Gadriel tersenyum lebar. Ia mempercepat langkah kakinya menuju
tempat Carlos berada, dengan seikat lavender di tangan.
Siang sebelumnya Carlos sudah menelepon Gadriel, memintanya untuk
bertemu di “pohon markas”. Gadriel sempat menolak, tapi Carlos terus
membujuknya, akhirnya Gadriel mengiyakan. Gadriel segera berlari menuju padang
dan memetik bertangkai-tangkai lavender dan mengikatnya dengan ilalang kering.
Gadriel tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. Dalam hatinya ia
berpikir, tentu Carlos akan menyukainya. Gadriel pun berangkat dengan
menggenggam seikat lavender di tangan.
Melihat Carlos yang sedang bertengger keren di atas “pohon markas”, mau
tidak mau membuat Gadriel tertawa. Ia mempercepat larinya sambil melambaikan
tangannya ke arah Carlos. Carlos pun membalas lambaian Gadriel dengan tangan yang
satunya masih memegang dahan pohon.
Lalu hal yang tak disangkanya terjadi. Carlos menginjak dahan yang
salah. Dahan tersebut tidak cukup kuat menahan tubuh Carlos. Yang terdengar
selanjutnya adalah suara dahan patah berbarengan dengan suara teriakan Carlos,
yang kemudian disusul dengan suara gebrakan keras.
Gadriel memekik kencang. Matanya membelalak lebar dengan napas yang
memburu. Setelah jatuh-bangun berkali-kali, ia berhasil mencapai Carlos. Carlos
sudah tidak bergerak. Tidak lagi
tersenyum. Tidak lagi bersuara.
“Ca… Carlos?”
Gadriel terus memanggil Carlos. Mengguncang pelan tubuhnya. Lalu
wajahnya memucat pelan-pelan.
Darah.
Gadriel mengangkat tubuh Carlos dari bebatuan, sesuatu yang basah
menyambut tangannya ketika ia menyentuh kepala Carlos.
Gadriel tidak mempercayai pandangannya.
“Carl… Carlos? Carlos?”
Tangan gemetar Gadriel menyentuh leher Carlos, berusaha menemukan denyut
nadi. Detik demi detik berlalu, yang terasa sangat lama bagi Gadriel. Tapi
tidak ada denyut yang sangat diharapkannya.
Gadriel berteriak putus asa. Ia tidak bisa menemukan denyut pada leher
maupun pergelangan tangan Carlos.
Gadriel terus memanggil Carlos, melakukan CPR, tapi sia-sia.
Gadriel terduduk kelelahan dengan napas memburu, tangisnya meledak. Ia
merengkuh tubuh Carlos yang tidak lagi bergerak, memeluknya dan menangis di
dadanya.
Genangan darah Carlos melebar, menyisakan bercak-bercak darah pada
seikat lavender yang dibawa Gadriel.
***
Aku memeluk batang pohon yang sudah sangat kukenali.
Pohon besar ini menyimpan banyak kenanganku bersama Carlos. Pohon besar ini
menjadi tempatku berbagi suka-duka bersama Carlos.
Pohon ini pernah menjadi tempat yang sangat kusayangi.
Tapi setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi mendatangi pohon ini. Terlalu
sakit bagiku untuk mengunjungi pohon ini setelah kepergian Carlos. Aku hanya
sanggup memandang pohon ini dari kejauhan ketika aku teramat rindu pada Carlos.
“Carlos, aku benar-benar merindukanmu.” ujarku lirih.
Aku memeluk batang “pohon markas” untuk terakhir
kalinya, lalu berbalik pergi.
Aku mencintaimu, Carlos. Meski kamu tidak pernah tahu itu. Sampai hari
ini aku masih menyesal tidak pernah mengatakan padamu betapa aku menyayangimu.
Aku mencintaimu, Carlos, tapi aku lelah terus hidup dalam bayang-bayang masa
lalu. Aku ingin “hidup” Carlos, aku ingin menghidupkan hidupku, meski tanpamu
di sisiku. Aku tidak akan menghapusmu dari hati dan ingatan, tapi menyisakan
sebuah sudut untukmu sebagai kenangan.
***
Angin berhembus pelan, mendaratkan selembar surat
berwarna ungu muda di atas gundukan samar yang ditutupi tanah dan rerumputan.
Gadriel,
Umm, sebenarnya aku bingung sih awalnya, mau taruh surat ini di dalam
kotak CG apa nggak. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk taruh aja. Untuk
jaga-jaga sih sebenarnya. Kalau aku nggak bisa bilang di depan kamu, ya surat
ini berfungsi sebagai penyampai isi hati (jiaaah). Kalau aku sanggup bilang
langsung sama kamu, ya surat ini anggap aja sebagai kenang-kenangan. Soal kamu
bakal ngakak atau nggak, urusan belakangan deh.
FYI, aku
benar-benar butuh keberanian ekstra untuk menelepon kamu. Aku cemas banget kamu
nolak, tapi syukurlah akhirnya kamu mau juga.
Kamu tahu aku nggak pandai merangkai kata-kata manis atau maut, jadi aku
cuma mau bilang, aku benar-benar sayang sama kamu, Ri. Aku nggak tahu sejak
kapan, yang jelas saat aku sadar, aku udah benar-benar sayang sama kamu, bahkan
jauh sebelum aku menyadarinya. Kamu pasti bingung ya? Aku sendiri bingung juga
sebenarnya. Ah, yang penting intinya aku suka kamu!
Aku suka melihatmu tertawa lebar saat aku memanjati pohon markas kita,
saat kita menikmati hotdog di Burclay, saat wajahmu belepotan tanah
setelah mengukir nama kita di batang pohon, saat kamu berlarian di tengah
padang lavender yang secara tak sengaja kutemukan.
Aku ingat sekali tatapan matamu yang berbinar ketika melihat padang
lavender yang tidak sengaja kutemukan. Saat itu kamu memekik senang lalu
berlari memelukku, “Ini menakjubkan, Carlos! Sangat menakjubkan!” lalu kamu
berlari riang di tengah padang.
Momen itu adalah momen yang sangat indah, aku ingin sekali
mengabadikannya, tapi sayang, aku nggak punya kamera. So, aku mengabadikannya
dalam ingatanku.
Ri, aku ingin membuatmu selalu tertawa. Aku ingin menjadi pelindungmu
dan sandaranmu. Beri aku kesempatan, oke?
Oh ya, aku ingin meluruskan satu hal. Sebenarnya aku nggak suka warna
ungu dan segala hal yang ada hubungan dengan ungu, termasuk lavender. Tapi
entah sejak kapan, aku mulai merasa ungu itu bukan warna yang buruk-buruk amat.
(Oh man, itu
benar-benar langkah besar! Belum pernah ada seorang cewek yang bisa mengubah
pandanganku!)
Aku ingat, kamu selalu membawa seikat lavender untukku setiap kali kita
bertemu. Kamu bilang lavender adalah kesayanganmu dan kamu ingin membaginya
denganku.
Well, aku ingin membawakanmu seikat lavender setiap harinya, sebagai
ungkapan rasa sayangku padamu. Aku ingin lavender tidak hanya menjadi
kesayanganmu, but also a
token of love between us.
So, do you mind to have 365.000 clusters of lavenders from me?
A
love with lavender scent,
Carlos
***
Even
you are gone, my love for you will never fade away. I’ll still love you, even
more, just as I love lavender.
Love’s
beautiful not because of its words, but because its eternity.
No comments:
Post a Comment