Tuesday, 21 October 2014

Seikat Lavender



Rabu siang.
Sraaak. Srek.
Satu lagi surat yang menghuni laci mejaku.
Entah ini surat yang ke berapa. Aku tidak lagi ingat. Terlalu banyak surat-surat yang kutulis untuknya yang teronggok di dalam.
Pikiranku larut dalam berbagai hal. Aku memejamkan mata, berusaha menikmati.


“Nih! Ambil bunganya.”
Suara gemericik air membuyarkan lamunanku.
Mataku terbuka dan menerawang menuju kejauhan dan pikiranku pun larut dalam kenangan.

Sabtu sore.
Semilir angin menerpa wajahku dengan lembut. Sesekali helaian rambutku menutupi pandanganku. Aku menghirup napas dalam-dalam lalu berteriak sekuat-kuatnya. Semua beban di pikiranku serasa terangkat dan menguap, hilang dibawa angin.
Cakrawala yang terhampar di hadapanku begitu memesona, masih sama seperti dulu. Indahnya membuatku kehilangan kata-kata dan hanyut kembali dalam kenangan.

Kamis sore.
Burclay Park masih sama seperti dulu. Masih asri dan meneduhkan hati. Aku menempati sebuah bangku taman yang kosong sambil melahap hotdog. Sesekali aku menatap dedaunan yang berguguran dihembus angin kencang. Aku kembali menikmati hotdog-ku sambil menatap sepasang kekasih yang berdiri di kejauhan.
Aku menghabiskan hotdog-ku kemudian membuang kertas pembungkusnya di tong sampah terdekat. Aku duduk kembali di bangku yang sama, menikmati semilir angin.
Wuussh…
“Ah!”
“Nih, saputangannya! Makanya pegang yang bener. Udah tau angin sini kencang.”
“Hehehe. Thank you, Car!”
“Udah kubilang jangan panggil “Car”! Aku bukan mobil!”
“Auw! Sakit, Carlos!”
“Gitu dong.”
“Rese!”
Helai-helai daun yang berguguran beterbangan ditiup angin. Salah satunya menerpa pipiku dan mendarat di pangkuanku. Aku memungut daun yang berbentuk menjari tersebut dan mengamatinya lekat-lekat. Selekat kenangan yang masih mengisi pikiran dan hatiku.

Minggu sore.
Seikat lavender berada dalam genggamanku. Aku menyusuri perlahan jalan setapak yang sudah sangat kukenal menuju tempat yang sudah lama sekali tidak kudatangi. Sesekali aku menepis ilalang yang mulai tumbuh tinggi.
Langkahku terhenti ketika batang pohon yang besar berada tak jauh dari pandanganku. Aku menarik napas, menghembuskannya pelan lalu menyunggingkan senyum. Perasaan hangat, rindu dan damai menyambutku bersamaan.
“Dri! Cepat, ke sini!”
“Nggak mau ah! Takut! Terlalu tinggi!”
“Sini, kubantu. Sini tangannya!”
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu memutuskan untuk meneruskan langkah.
Langkahku terhenti di depan sebuah pohon besar yang berdiri jumawa. Pohon ini masih sama seperti saat terakhir kali kutinggalkan. Batangnya yang kasar masih menyisakan guratan-guratan yang kubuat bersamanya. Masih terasa begitu jelas dan familier.
“Wah! Pohon ini gede banget! Kok bisa tau ada pohon ini di sini?”
“Iya dong, Carlos gitu lho! Haha! Kita jadiin pohon ini markas main aja ya?”
“Asik! Eh, kita tulisin nama kita di pohon ini yuk!”
“Sip!”
Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon tersebut, masih dengan seikat lavender di tangan. Mataku terpejam, berusaha mendamaikan hati dan pikiran dengan kenangan.
Suara gemerisik dedaunan menyadarkanku dari lamunanku. Aku membuka mata. Sudah saatnya.
Aku berjongkok, menggali tanah di sekitar akar pohon. Tanganku terus menggali hingga aku menemukan apa yang kucari. Sebuah kotak warna cokelat pucat dengan inisial CG di atasnya.
Aku meraih kotak tersebut dan membersihkannya dari debu tanah. Perasaan sayangku pada kotak ini beserta isinya menyeruak memenuhi relung hatiku. Sejenak aku ragu, tapi menit berikutnya aku aku kembali membulatkan tekad. Sudah saatnya, Riel. Sudah cukup.
Aku berdiri dan meraup kertas-kertas yang mengisi kotak tersebut, menggenggamnya erat-erat dalam tanganku dan menempatkannya di depan dadaku. Mataku memejam, berusaha menyimpan setiap kenanganku bersamanya sebaik-baiknya.
Je t’aime…
Bersamaan dengan itu, aku melemparkan kertas-kertas dalam genggaman ke udara, menciptakan tebaran lembaran putih di langit biru.
Aku menatap lembaran-lembaran kertas yang bertebaran dan beterbangan ditiup angin. Aku merasa lega dan bebas, sebebas lembaran-lembaran kertas yang beterbangan dibawa angin.
“Carlos! Maafkan aku!” teriakku kencang ke arah langit.
Aku mengambil selembar foto dari balik saku. Foto Carlos yang sedang tertawa lebar di atas dahan pohon. Aku menguburkan foto Carlos bersama seikat lavender di dalam kotak cokelat pucat, lalu meletakkannya dalam lubang yang telah kugali sebelumnya. Pelan tapi pasti, aku menutupi kembali kotak tersebut dengan tanah dan rerumputan.
Aku berdiri dan menyeka keringat di dahi dengan lengan. Aku menatap pohon yang berdiri kokoh di hadapanku. Tanpa bisa kucegah, aku kembali merasa getir. Perasaan bersalah dan sedih kembali menyerangku tanpa bisa kucegah. Butiran airmata bergulir menuruni pipiku.
***
“Riel!”
Dari kejauhan tampak oleh Gadriel sosok Carlos yang sedang nangkring di atas pohon. Gadriel tersenyum lebar. Ia mempercepat langkah kakinya menuju tempat Carlos berada, dengan seikat lavender di tangan.
Siang sebelumnya Carlos sudah menelepon Gadriel, memintanya untuk bertemu di “pohon markas”. Gadriel sempat menolak, tapi Carlos terus membujuknya, akhirnya Gadriel mengiyakan. Gadriel segera berlari menuju padang dan memetik bertangkai-tangkai lavender dan mengikatnya dengan ilalang kering.
Gadriel tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. Dalam hatinya ia berpikir, tentu Carlos akan menyukainya. Gadriel pun berangkat dengan menggenggam seikat lavender di tangan.
Melihat Carlos yang sedang bertengger keren di atas “pohon markas”, mau tidak mau membuat Gadriel tertawa. Ia mempercepat larinya sambil melambaikan tangannya ke arah Carlos. Carlos pun membalas lambaian Gadriel dengan tangan yang satunya masih memegang dahan pohon.
Lalu hal yang tak disangkanya terjadi. Carlos menginjak dahan yang salah. Dahan tersebut tidak cukup kuat menahan tubuh Carlos. Yang terdengar selanjutnya adalah suara dahan patah berbarengan dengan suara teriakan Carlos, yang kemudian disusul dengan suara gebrakan keras.
Gadriel memekik kencang. Matanya membelalak lebar dengan napas yang memburu. Setelah jatuh-bangun berkali-kali, ia berhasil mencapai Carlos. Carlos sudah tidak bergerak. Tidak  lagi tersenyum. Tidak lagi bersuara.
“Ca… Carlos?”
Gadriel terus memanggil Carlos. Mengguncang pelan tubuhnya. Lalu wajahnya memucat pelan-pelan.
Darah.
Gadriel mengangkat tubuh Carlos dari bebatuan, sesuatu yang basah menyambut tangannya ketika ia menyentuh kepala Carlos.
Gadriel tidak mempercayai pandangannya.
“Carl… Carlos? Carlos?”
Tangan gemetar Gadriel menyentuh leher Carlos, berusaha menemukan denyut nadi. Detik demi detik berlalu, yang terasa sangat lama bagi Gadriel. Tapi tidak ada denyut yang sangat diharapkannya.
Gadriel berteriak putus asa. Ia tidak bisa menemukan denyut pada leher maupun pergelangan tangan Carlos.
Gadriel terus memanggil Carlos, melakukan CPR, tapi sia-sia.
Gadriel terduduk kelelahan dengan napas memburu, tangisnya meledak. Ia merengkuh tubuh Carlos yang tidak lagi bergerak, memeluknya dan menangis di dadanya.
Genangan darah Carlos melebar, menyisakan bercak-bercak darah pada seikat lavender yang dibawa Gadriel.
***
Aku memeluk batang pohon yang sudah sangat kukenali. Pohon besar ini menyimpan banyak kenanganku bersama Carlos. Pohon besar ini menjadi tempatku berbagi suka-duka bersama Carlos.
Pohon ini pernah menjadi tempat yang sangat kusayangi. Tapi setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi mendatangi pohon ini. Terlalu sakit bagiku untuk mengunjungi pohon ini setelah kepergian Carlos. Aku hanya sanggup memandang pohon ini dari kejauhan ketika aku teramat rindu pada Carlos.
“Carlos, aku benar-benar merindukanmu.” ujarku lirih.
Aku memeluk batang “pohon markas” untuk terakhir kalinya, lalu berbalik pergi.
Aku mencintaimu, Carlos. Meski kamu tidak pernah tahu itu. Sampai hari ini aku masih menyesal tidak pernah mengatakan padamu betapa aku menyayangimu. Aku mencintaimu, Carlos, tapi aku lelah terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Aku ingin “hidup” Carlos, aku ingin menghidupkan hidupku, meski tanpamu di sisiku. Aku tidak akan menghapusmu dari hati dan ingatan, tapi menyisakan sebuah sudut untukmu sebagai kenangan.
***
Angin berhembus pelan, mendaratkan selembar surat berwarna ungu muda di atas gundukan samar yang ditutupi tanah dan rerumputan.
Gadriel,
Umm, sebenarnya aku bingung sih awalnya, mau taruh surat ini di dalam kotak CG apa nggak. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk taruh aja. Untuk jaga-jaga sih sebenarnya. Kalau aku nggak bisa bilang di depan kamu, ya surat ini berfungsi sebagai penyampai isi hati (jiaaah). Kalau aku sanggup bilang langsung sama kamu, ya surat ini anggap aja sebagai kenang-kenangan. Soal kamu bakal ngakak atau nggak, urusan belakangan deh.
FYI, aku benar-benar butuh keberanian ekstra untuk menelepon kamu. Aku cemas banget kamu nolak, tapi syukurlah akhirnya kamu mau juga.
Kamu tahu aku nggak pandai merangkai kata-kata manis atau maut, jadi aku cuma mau bilang, aku benar-benar sayang sama kamu, Ri. Aku nggak tahu sejak kapan, yang jelas saat aku sadar, aku udah benar-benar sayang sama kamu, bahkan jauh sebelum aku menyadarinya. Kamu pasti bingung ya? Aku sendiri bingung juga sebenarnya. Ah, yang penting intinya aku suka kamu!
Aku suka melihatmu tertawa lebar saat aku memanjati pohon markas kita, saat kita menikmati hotdog di Burclay, saat wajahmu belepotan tanah setelah mengukir nama kita di batang pohon, saat kamu berlarian di tengah padang lavender yang secara tak sengaja kutemukan.
Aku ingat sekali tatapan matamu yang berbinar ketika melihat padang lavender yang tidak sengaja kutemukan. Saat itu kamu memekik senang lalu berlari memelukku, “Ini menakjubkan, Carlos! Sangat menakjubkan!” lalu kamu berlari riang di tengah padang.
Momen itu adalah momen yang sangat indah, aku ingin sekali mengabadikannya, tapi sayang, aku nggak punya kamera. So, aku mengabadikannya dalam ingatanku.
Ri, aku ingin membuatmu selalu tertawa. Aku ingin menjadi pelindungmu dan sandaranmu. Beri aku kesempatan, oke?
Oh ya, aku ingin meluruskan satu hal. Sebenarnya aku nggak suka warna ungu dan segala hal yang ada hubungan dengan ungu, termasuk lavender. Tapi entah sejak kapan, aku mulai merasa ungu itu bukan warna yang buruk-buruk amat. (Oh man, itu benar-benar langkah besar! Belum pernah ada seorang cewek yang bisa mengubah pandanganku!)
Aku ingat, kamu selalu membawa seikat lavender untukku setiap kali kita bertemu. Kamu bilang lavender adalah kesayanganmu dan kamu ingin membaginya denganku.
Well, aku ingin membawakanmu seikat lavender setiap harinya, sebagai ungkapan rasa sayangku padamu. Aku ingin lavender tidak hanya menjadi kesayanganmu, but also a token of love between us.
So, do you mind to have 365.000 clusters of lavenders from me?

                                                              A love with lavender scent,
                                                                            Carlos
***

Even you are gone, my love for you will never fade away. I’ll still love you, even more, just as I love lavender.
Love’s beautiful not because of its words, but because its eternity.
 

No comments:

Post a Comment