I am a
witness of love
Di hari
kasih sayang, aku adalah ungkapan sayang seorang pria terhadap wanita. Pria itu
membawaku pulang dari sebuah toko perhiasan ternama setelah menabung cukup
lama. Aku ingat sekali, ketika wanita yang dicintai pria itu membuka kotak
beludru dan melihatku, ia memekik senang, lalu memeluk pria itu dengan erat.
Aku bisa melihat cinta dalam tatapan mata keduanya. Aku merasa sangat bahagia
saat itu. Aku bersyukur dapat menjadi bagian dari kisah mereka, bahwa pria akan
melakukan semampunya demi sebuah senyuman bahagia di wajah wanita yang
dicintainya.
Di hari yang sakral itu, aku adalah saksi sekaligus
bukti cinta mereka. Aku menyaksikan bagaimana mereka mengucapkan janji di suci
di hadapan Bapa dengan wajah yang diliputi kebahagiaan tulus. Aku menyaksikan bagaimana
mereka bersukacita menyambut dan mempersiapkan sebuah babak kehidupan yang
baru. Aku menyaksikan bagaimana mereka bahu-membahu membangun sebuah perahu
kehidupan yang dipenuhi dan didasari cinta.
Pada tahun-tahun awal, aku melihat bagaimana manisnya
mereka. Meski terkadang ada pertengakaran-pertengkaran kecil, tapi mereka bisa
mengatasinya. Malah dari pertengkaran-pertengkaran tersebut pemahaman mereka
akan satu sama lain semakin dalam. Aku bisa merasakan kegigihan keduanya untuk
memperjuangkan kehidupan baru mereka.
Kala malam, aku berbisik dengan pasanganku ketika
keduanya terlelap dengan tangan saling bertaut. Kami bercakap-cakap dengan
suara perlahan, bersyukur menemukan tuan yang saling mengasihi satu sama lain.
Kami juga berdoa bagi mereka agar cinta mereka selamanya tak berubah.
Waktu terus bergulir. Selama kehidupan ada, selamanya
akan ada ketidaksempurnaan. Begitu juga dengan mereka.
Aku mulai menyaksikan pertengkaran-pertengkaran yang
lebih besar dari tahun-tahun awal mereka. Masalah-masalah sosial yang
menghimpit mulai memengaruhi kehidupan mereka. Aku turut merasakan sakit hati
si wanita ketika si pria menyudahi pertengkaran mereka dengan bantingan pintu.
Aku menyaksikannya menangis dalam pilu. Aku bisa merasakan kesedihannya.
Pertengkaran kali ini tidak seperti pertengkaran pada
tahun-tahun awal mereka. Aku tidak tahu apa sebabnya seperti ini. Mereka tidak
berbaikan dengan mudah seperti masa itu. Aku rasa, ego mulai mengalahkan cinta.
Pasanganku terus menyemangatiku supaya tidak berputus asa dan memintaku terus
berdoa bagi mereka. Aku menurut.
Masa demi masa berlalu. Aku mulai merindukan masa-masa
indah dahulu. Aku tidak mengerti, mengapa mereka bisa seperti ini. Saling
memahami dan menoleransi seolah menguap perlahan. Aku menyaksikan bagaimana
sebuah perkara kecil dapat memicu pertengkaran yang hebat.
Kala malam, aku menangis dalam diam. Aku merasa sedih
sekali, mereka saling membelakangi. Aku tidak lagi bercakap-cakap dengan
pasanganku sesering dahulu. Ketika aku masih melanjutkan tangis, pasanganku
berujar padaku, berdoalah terus bagi mereka. Ya, berdoa. Hanya itu yang dapat kami
lakukan.
I was a
witness of love
Tidak
terasa, sudah cukup lama aku menemani mereka mengarungi kehidupan. Aku bisa
merasakan kasih yang memudar perlahan. Segalanya tampak begitu berbeda pada
masa-masa awal. Aku sering bertanya-tanya, sebegitu rapuhkah kasih di antara
dua manusia?
Hari-hari
berlalu tenang dan tampak biasa. Sampai-sampai aku tidak menyadari sebuah
hantaman yang menyerang. Hal yang paling aku takutkan terjadi.
Di
suatu pagi, wanita berujar lirih pada pria bahwa ia tidak bisa meneruskan lagi.
Ia ingin mengakhiri semuanya. Ia merasa sangat lelah dan tidak bahagia. Ia
merasa si pria tidak lagi mencintainya.
Aku
tidak memercayai pandangan dan pendengaranku. Mereka… akan berpisah?
Si pria
mendesah singkat, lalu berbalik pergi. Dia tidak menolak.
Hatiku
hancur tatkala mereka memutuskan untuk menandatangani surat itu, surat yang
mengakhiri panggilan dan arti hidupku. Aku berteriak memohon mereka agar jangan
melepaskanku dan pasanganku. Tapi, tentu saja mereka tidak dapat mendengarnya.
Hal yang tentu saja membuatku teramat frustrasi.
Ketika
aku sudah lepas dari jari mereka, aku pasrah. Aku sadar, sudah berakhir. Aku
tak lagi berarti apa-apa.
Aku
masih bisa mendengar wanita berujar lirih, “Sudahlah, mungkin Tuhan tidak lagi
menginginkan kami bersama.”
Tanpa
dapat kucegah, aku merasa tertusuk. Aku merasa tidak berarti. Tapi detik
berikutnya, aku merasa kasihan pada mereka.
Jika Tuhan
telah menyatukan mereka, mungkinkah Ia memisahkan mereka? Mungkinkah Ia
meleburkan kebahagiaan anak-anak-Nya?
Aku
merasa semakin getir tatkala teringat janji suci yang telah mereka ucapkan di
hadapan Bapa.
Detik
berikutnya, aku menyaksikan mereka berpisah, dengan tatapan kabur oleh airmata.
Detik berikutnya, aku menyadari itu adalah airmataku sendiri.